Pemetaan Guru Tak Mungkin Hanya dengan Sampel Penulis

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Guru mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) gelombang kedua secara online di SMA Negeri 70, Jakarta Selatan, Selasa (9/10/2012). Pelaksanaan UKG digelar pemerintah untuk mengukur dan memetakan kompetensi guru setelah menerima tunjangan profesi. Hasil dari ujian ini akan dijadikan peta awal peningkatan dan pembinaan mutu guru.

JAKARTA, KOMPAS.com – Terkait munculnya usulan pemetaan kompetensi guru dilakukan dengan metode sampling, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh angkat bicara. Menurutnya, pemetaan kompetensi guru melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) per individu sudah tepat.

“Sekarang kalau bicara data, ada yang basisnya populasi dan itu bisa dengan pendekatan sampling. Ada juga pendekatan personal dengan memetakan individu,” kata Nuh, seusai penutupan karya bakti bedah sekolah, di Serang, Banten, Senin (22/10/2012).

“Kapan itu pakai sampling atau personal itu tergantung tujuan dan implikasinya. Kalau implikasinya personal, ya pendekatannya personal. Kalau implikasinya pada populasi maka datanya bisa didapatkan dengan sampling,” imbuh Nuh.

Ia menambahkan bahwa UKG wajib dilakukan per individu guru karena implikasi dari pelaksanaan tersebut adalah pada personal guru tersebut. Dari UKG ini, lanjutnya, dapat terlihat guru yang masih butuh pembinaan atau guru yang sudah menguasai bidangnya dengan baik.

Ia juga mengungkapkan bahwa UKG ini akan terus berlanjut hingga tahun depan. Pasalnya, semua guru di seluruh Indonesia harus mengikuti UKG ini sebagai salah satu langkah untuk memperbaiki kualitas dalam mencetak lulusan yang unggul.

“UKG akan terus dilanjutkan sampai selesai semuanya. Ke depannya kami akan terus perbaiki agar tidak muncul masalah,” ujar Nuh.

Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik (BPSDMP&PMP), Syawal Gultom, mengatakan bahwa pelaksanaan UKG untuk masing-masing guru ini penting sehingga dapat dikelompokkan guru-guru yang butuh pembinaan agar kualitasnya meningkat.

“Misalnya, saya ini guru matematika. Ternyata saat UKG nilai saya rendah di bagian kalkulus. Nanti diklasifikasikan dengan guru-guru lain yang juga lemah di bidang itu,” ujar Syawal.

“Jadi kan materi yang diberikan saat diklat juga jelas dan fokus pada kelemahan para guru tersebut,” tandasnya.

Seperti diketahui, Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar menghentikan UKG. Menurut forum guru ini, jika tujuan UKG hanya untuk pemetaan kualitas guru maka sebaiknya dilakukan dengan mengampil sampel dari tiap wilayah saja.

 

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s